Kamis, 07 Maret 2013

Nyepi di Hotel Yuukkk!


Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari-hari ini email saya dipenuhi oleh informasi yang menawarkan paket Nyepi di hotel-hotel berbintang yang ada di Bali. Sebagian besar menawarkan paket menginap 2 malam lengkap dengan makan minum dan segudang fasilitas rekreasi. Mungkin nampak biasa bagi orang kebanyakan karena paket ini menawarkan kenyamanan bagi umat yang beragama lain yang tinggal di pulau mungil ini untuk menghindar dari keharusan untuk menderita (dalam tanda kutip) pada saat Nyepi dengan mengungsi ke hotel. Tapi yang cukup membuat sedih adalah banyak juga orang Bali yang notabene Hindu yang ikut tergoda rayuan ini. Banyak rekan yang bahkan sengaja 'escape' menghilang dari Bali pada momen tahunan ini sekedar untuk menjauh dari keharusan untuk bergelap gulita, berdiam di rumah seharian. Jauh sebelum Nyepi mereka sudah memesan tiket ke Singapura, Jakarta ataupun kota-kota di Jawa.

Nyepi yang seharusnya menjadi momentum untuk berkontemplasi saat ini sudah menjadi sebuah rutinitas belaka setiap tahunnya. Nampak meriah di sisi luar dengan semaraknya pawai Ogoh-Ogoh namun di sisi dalam ia semakin kehilangan makna. Dan saya pun menduga ini adalah efek negatif dari pariwisata materialistis yang saat ini sedang kita kembangkan. Ataukah ini pertanda hegemoni budaya hedonis yang kini menjadi agama baru kaum kita?

Tanpa bermaksud menggurui, bagi saya Nyepi adalah sebuah momen yang sangat istimewa. Hanya di hari itu saya bisa lagi mendengar nyanyian burung, desir angin, gemericik air dan suara-suara alam lainnya yang setiap hari kalah dengan deru roda kehidupan di tempat tinggal saya di Denpasar. Di hari itu kami sekeluarga biasanya hadir lengkap. Di hari itu dunia seakan berhenti berputar, memberi ruang bagi kita untuk merenungkan makna sejati kehidupan. Hari itu bukanlah penderitaan, hari itu adalah kesempatan yang amat langka.

Selamat hari raya Nyepi tahun Caka 1935.

Minggu, 03 Juni 2012

Bandung Jakarta Naik Kereta Api






5 Februari 2012.

Receptionist di Hyatt Regency Bandung bertanya ke saya, "Pak, ke Jakarta naik apa besok? Sudah pesan kendaraan?". "Oh iya, kami akan naik kereta api eksekutif Parahyangan jam 3 sore. Apa bisa diantar ke stasiun gak?. Ternyata sang reseptionist terheran-heran mendengar jawaban saya. Biasanya orang Jakarta yang ber-weekend di Bandung kalau balik ke Jakarta naik mobil pribadi atau travel. Mungkin juga dia pikir ini orang Bali kok naik kereta? Kan lebih cepat naik travel, langsung bisa sampai di alamat yang dituju. Hehehe... saya bilang ke dia bahwa saya cuma ingin coba saja berhubung di Bali tidak ada kereta api. Saya ingin memberikan pengalaman menggunakan berbagai moda transportasi untuk anak-anak saya. Di samping itu, dengan menggunakan kereta kami masih bisa melihat suasana pedesaan di pinggir rel kereta yang tentunya akan terlewat bila naik pesawat.

Sampai di stasiun Bandung ternyata masih banyak waktu yang tersisa. Kami sempat keliling-keliling sekitar stasiun. Stasiunnya masih berupa bangunan peninggalan Belanda yang dirawat dengan baik. Mungkin dari sisi kebersihan maupun penataan area komersialnya yang perlu diperbaiki lagi karena mengganggu kenyamanan penumpang.

Kereta api Bandung - Jakarta sore itu tidak terlalu ramai. Di gerbong tempat saya dan keluarga hanya terisi kurang dari setengah. Ruangannya bersih dan jarak antara kursi sangat lebar. Sangat nyaman untuk selonjor kaki. Tidak seperti kursi pesawat low cost airline biasanya. Kalau mau pesan makanan juga bisa. Tinggal pesan yang disuka nanti langsung diantar ke kursi masing-masing. Kecepatan kereta mungkin rata-rata 60 - 80 km/jam. Saya tidak tahu pasti tapi saya rasa secepat itu. Hal ini sangat menguntungkan karena kami bisa menikmati pemandangan alam yang luar biasa khususnya setelah keluar kota Bandung. Sawah, kebun maupun desa-desa kecil yang dilewati sangat mempesona. Jembatan yang membentang tinggi di atas jurang yang menakjubkan. Tidak kalah dengan apa yang tersaji di film-film Hollywood. Anak-anak bermain bola di lapangan desa mengingatkan saya pada masa kecil. Sayang setelah satu setengah jam perjalanan turun hujan. Pemandangan alam akhirnya tidak bisa terlihat jelas lagi.

Memasuki kota Jakarta, pemandangan yang disuguhkan sangat berbeda. Tempat tinggal liar di pinggir rel kereta, perkampungan yang kumuh, sampah di mana-mana. Tiga jam waktu yang dibutuhkan dari Bandung untuk sampai di Stasiun Gambir. Tiga jam yang menyajikan pemandangan yang kontras. Suasana desa yang tenang dan asri dalam suasana guyub di mana jurang antara si kaya dan si miskin tidak terlalu kentara sangat kontras dengan gemerlap Jakarta yang metropolis dan egois. Yang kaya, kaya sekali; yang miskin, miskiiiiiiin sekali.

Balik lagi ke perjalanan dengan kereta tadi. Saya pikir sebenarnya negara kita mempunyai potensi pariwisata yang sangat luar biasa. Wisata dengan kereta dari Jakarta ke Bandung sangat layak dijual. Tentunya dibutuhkan pengelolaan yang lebih baik dan dipasarkan dengan profesional. Panorama alam yang tersaji sangat luar biasa. Saya membayangkan apabila keindahan ini diabadikan oleh fotografer-fotografer handal yang banyak kita miliki. Wow, pasti sangat fantastis hasilnya. Tinggal sekarang siapa yang mau memulai menggarap ini. Ayo siapa berani?





Mana Mungkin Orang Bali Bisa jadi General Manager Hotel?



Tamat SMA dulu tahun 1989 saya menghadapi dilema yang cukup berat. Niatnya memang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu masuk universitas, ambil jurusan arsitektur karena memang cita-citanya mau ke sana. Dari sisi bekal ilmu sebenarnya cukup mendukung. Saya tamat dari jurusan fisika dan nilai-nilai pelajaran eksak juga sangat baik. Matematika, fisika, kimia lumayan di atas 9 semua. Bahasa Inggris juga OK. Namun saya harus berhadapan dengan realita. Kalaupun orangtua bisa membiayai saya sampai tamat kuliah arsitek, saya yakin adik-adik saya bakal hanya mampu sekolah sampai SMA saja. Maklumlah ayah hanya seorang tukang bangunan dan ibu seorang ibu rumah tangga yang juga membantu mencari nafkah dengan bisnis kecil-kecilan. Namun yang saya contoh dari mereka adalah sikap jujur dan pantang menyerah. Tidak pernah sekalipun beliau mengambil rejeki dari cara yang curang.

Singkat cerita, setelah menimbang-nimbang, saya akhirnya memutuskan masuk sekolah perhotelan karena saat itu peluang kerja di hotel sangat banyak. Terdamparlah saya di BPLP Bali mengikuti program Diploma 1 Front Office. Saya pikir dengan modal nilai bahasa Inggris yang baik saya akan cocok untuk bidang itu. Sekolahnya pun hanya 1 tahun jadi cepat bisa bekerja dengan harapan bisa membantu orang tua menyekolahkan adik-adik.

Tahun 1990 saya tamat dan langsung mengirimkan lamaran ke beberapa hotel. Sempat ditolak oleh beberapa hotel tapi sempat juga menolak kesempatan kerja dari salah satu hotel. Syukur akhirnya saya diterima di salah satu hotel besar di Nusa Dua. Di sanalah saya belajar bekerja selama tujuh setengah tahun. Dari seorang karyawan biasa sampai bisa menjadi manager menengah. Perjalanan karir terus berlanjut sampai akhirnya kini setelah 20an tahun bekerja saya mencapai posisi yang diidam-idamkan oleh hampir semua karyawan hotel yaitu posisi GM, General Manager. Tentu posisi ini mempunyai tanggung jawab yang besar sehingga diperlukan orang-orang yang sudah berpengalaman untuk memegang posisi ini. Saya bersyukur karena mendapatkan kesempatan yang langka ini.

Saya sering mendengar dan membaca bahwa orang-orang yang ada di posisi puncak sering merasakan kesendirian. Kesendirian dalam arti profesional. Saya rasa hal ini terjadi di hampir semua organisasi baik itu organisasi masyarakat, sosial, bisnis maupun lainnya. Ibarat mendaki gunung, ketika kita berada di puncak kita akan merasakan kesendirian. Memang dalam membuat keputusan kita akan dibantu oleh anggota tim kita namun keputusan akhir tetap ada di tangan kita. Karena itu kitalah yang paling bertanggungjawab atas segala hasil dari keputusan yang diambil. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kesendirian dari Presiden RI dalam memutuskan hal-hal yang penting buat negara ini.

Salah satu cara mengatasi kesendirian tadi adalah dengan ikut aktif dalam forum-forum atau asosiasi bisnis yang melibatkan rekan-rekan sesama GM. Ada beberapa di Bali seperti PHRI, BHA ataupun SKAL Club. Bagi yang suka bergiat di bidang sosial banyak yang ikut Rotary Club. Di sana biasanya berkumpul para GM atau eksekutif hotel-hotel di Bali yang secara rutin bertemu baik dalam acara yang santai ataupun yang lebih serius membicarakan hal-hal yang menyangkut pariwisata Bali khususnya bidang perhotelan. Bagaimana caranya agar kita tidak tertinggal dari pesaing-pesaing kita, bagaimana caranya menjalankan pariwisata yang berkelanjutan tanpa merusak lingkungan agar bisa dinikmati oleh generasi mendatang.

Ada satu hal yang cukup menggelitik perhatian saya dalam hal ini. Dalam beberapa forum yang saya ikuti sangat jarang ada GM yang orang Bali di sini. Selain saya paling ada lima orang Indonesia lainnya. Itupun tidak semua orang Bali. Sebagian besar orang-orang asing. Bukan bermaksud SARA karena jaman sudah global. Namun pertanyaannya ke manakah GM orang-orang Bali ini? Apakah saya yang salah tempat?

Belum ada data mengenai berapa banyak orang Bali yang menjabat posisi ini. Tapi saya tahu sudah banyak teman-teman Bali yang memegang posisi ini sekarang. Mungkin mereka merasa organisasi di atas tadi adalah untuk orang-orang asing. Namun harus diakui bahwa untuk saat ini kemampuan GM asing memang masih di atas kita. Perkataan saya ini pasti banyak yang bakal mendebat. Itu boleh-boleh saja. Tapi paling tidak dari sisi networking, penguasaan bahasa Inggris dan pemahaman budaya para turis asing yang berwisata ke Bali, mereka lebih mumpuni. Saya sendiri tidak jarang harus belajar dari mereka tentang beragam hal. Saya merasa beruntung punya seorang mentor GM asing yang sangat membantu mengembangkan diri saya. Banyak sekali pola pikir dan cara pandang mereka yang berbeda dengan kita. Tentu tidak semuanya sesuai dengan kebudayaan kita tapi sangat banyak yang lebih baik dari cara kita memandang. Terserah kita untuk menyaringnya.

Saya bermimpi bahwa pada suatu saat dalam forum-forum ini saya akan melihat kehadiran lebih banyak GM-GM Bali. Kita harus menunjukkan eksistensi bahwa SDM Bali tidak kalah dengan daerah lain ataupun dari SDM luar negeri. Kehadiran kita di forum-forum ini akan memberikan warna yang berbeda. Kita bisa memberikan suatu masukan yang berharga buat kelestarian pulau yang indah ini.

Semoga.

Jumat, 01 Juni 2012

Ada Pesan Cinta di Pantat Truk

Tahun 2010 lalu, tepatnya mulai 1 Oktober saya pindah kerja dari Jimbaran ke Seminyak. Kalau dari rumah di Kesiman ke Jimbaran biasanya saya tempuh dalam waktu satu jam. Nah sekarang dari rumah ke Seminyak waktunya berkurang jadi 45 menit. Itu dulu, tahun 2010. Tapi sekarang sudah balik lagi ke waktu tempuh satu jam. Inilah dampak negatif dari perkembangan ekonomi yang sangat baik tapi tanpa diimbangi dengan perkembangan infrastruktur yang sesuai. Masyarakat dimanjakan dengan uang muka yang ringan untuk kredit sepeda motor maupun mobil namun jalan raya hanya segitu-gitu saja.

"Tidak usah mengeluh, nikmati saja", gerutu saya dalam hati. Untuk mengisi waktu sambil menyetir saya sekarang punya kebiasaan baru yaitu update status di facebook lewat telepon genggam saya. Sambil menyetir saya dengar radio. Nah dari siaran radio ini biasanya tercetus ide-ide status facebook yang enak untuk di-posting. Jadi waktu terjebak macet atau pas nunggu lampu merah maka secepatnya saya update status yang muncul di pikiran.

Kebetulan saat ini di tempat saya bekerja kami memasarkan hotel secara online. Maka mau tidak mau saya harus menceburkan diri saya ke segala hal yang berhubungan dengan dunia internet marketing. Salah satunya marketing melalui sosial media. Dalam perjalanan memburu ilmu sosial media marketing itu saya pernah membaca sebuah artikel tentang posting apa saja yang mendapatkan respon tinggi di Facebook. Jawabnya ada 3 (kalau tidak salah). Status yang diposting harus memenuhi unsur relevance, recency dan trend. Artinya status yang kita posting harus berhubungan dengan audien, harus masih anyar dan sedang dibicarakan.

Saya iseng-iseng coba resep tersebut dan ternyata manjur. Kalau update status tentang diri kita sedang bagaimana (galau dan kawan-kawannya) atau kita sedang melakukan apa biasanya tidak begitu mendapat tanggapan dari teman-teman. Tapi begitu saya posting status tentang isu terkini dan relevan dengan teman-teman saya maka mendadak sontak respon segera mengalir.

Namun ada satu hal lagi yang cukup mengena dalam hal ini. Biasanya dalam perjalanan satu menuju tempat kerja saya kadang-kadang dengan terpaksa membuntuti pantat... dalam hal ini pantat truk. Ada sesuatu yang menarik di situ yaitu tulisan-tulisan yang dirangkai dengan grafis yang indah. Pesan-pesan yang dipasang ada yang lucu, gundah dan bahkan nakal. Saya tidak tahu pasti apakah pesan-pesan ini dipilih langsung oleh sopir truk sendiri atau malah pesanan dari sang pemilik truk. Yang pasti pesan-pesan tersebut cukup menginspirasi dan membuat hilang rasa kantuk. Bisa saja pesan-pesan itu adalah curahan isi hati sang supir sendiri....hahaha. Nah ternyata posting pesan pantat truk yang saya kemas dalam bentuk "pesan pantat truk hari ini" ternyata cukup mengena unsur relevance, recency walaupun belum tentu trendy. Hasilnya respon dari teman-teman mengalir deras setiap saya posting "pantat truk". Bahkan seorang teman mengaku menunggu-nunggu terus status tersebut....hahaha

Kalau mau eksis di social media, selamat mencoba resep ini! 


Kamis, 14 Mei 2009

Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal

Saya sedang mengumpulkan beberapa artikel tentang sosok Pak Boediono yang sekarang sedang hangat dibicarakan orang karena jadi cawapresnya SBY. Kebetulan tadi waktu buka kompas.com ketemu artikel di bawah ini. Yang nulispun bukan orang sembarangan yaitu Faisal Basri, salah satu ekonom nasional yang kita. Selama ini Faisal Basri kita kenal sebagai tokoh yang kritis terhadap perekonomian nasional kita. Saya yakin apa yang dia tulis di blog pribadinya ini sangat valid. Selamat membaca!

===============================================================

Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal
Oleh Faisal Basri - 14 Mei 2009 - Dibaca 5126 Kali -

Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata ”sinopsis,” ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.

Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.

Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak BOed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa transisi.

Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet,” jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.

Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah … Keesokan harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.

Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.
Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.

Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.

Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di bandara Soekarno Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.

Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari mobil dinas gubernur.
Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.

Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.

Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, bagi kemajuan Bangsa.

Ekonomi Neoliberal, Masih Adakah?

Menarik juga untuk mengikuti perkembangan proses penentuan capres dan cawapres. Begitu SBY mengumumkan memilih Boediono sebagai cawapres, banyak pihak yang tidak setuju dengan Gubernur BI ini menyerang dengan mengatakan bahwa Boediono menganut paham ekonomi Neoliberal. Apa itu paham Neoliberal? Tulisan yang saya copy dari detik.com edisi hari ini rasanya cukup membantu kita untuk memahami wacana ini secara lebih berimbang. Selamat membaca

-------------------------------------
Ekonomi Neoliberal, Masih Adakah?

Jakarta - Kalimat ekonomi neoliberal sedang jadi tren menjelang pemilihan presiden. Mencuatnya Boediono sebagai cawapres pun lantas dikait-kaitkan dengan paham ekonomi neoliberal itu. Benar kah? Bagaimana sebetulnya ekonomi neoliberal ini?

Ekonomi neoliberal diartikan sebagai filosofi ekononomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestik. Ekonomi neoliberal fokus pada metode pasar bebas dan sangat sedikit membatasi perilaku bisnis dan hak-hak milik pribadi.

Dalam pandangan kepala ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan, saat ini susah untuk mencari negara yang menerapkan model ekonomi neoliberal secara murni. Amerika Serikat (AS) yang disebut-sebut menerapkan ekonomi neoliberal sebenarnya tak lagi secara murni menerapkan teori itu.

"AS sebenarnya tidak purely ekonomi neoliberalisme. Segala sesuatunya ada UU. Bahkan sekelas Microsoft pun kena aturan. Mereka sendiri secara relatif kalau bikin spektrumnya relatif sebelah kanan, lebih ke sangat terbuka, sangat bebas. Tapi mereka juga mengimbangi untuk menolong masyarakatnya, dengan modal security system untuk menolong masyarakat yang tidak mampu," urai Anton dalam perbincangannya dengan detikFinance, Kamis (14/5/2009).

Negara mana yang kini menerapkan neoliberalisme? "Sekarang susah kalau mau mencari yang purely neoliberalism," ujar Anton.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?Anton menjelaskan, dari banyak sisi, mengkaitkan perekonomian Indonesia dengan paham ekonomi neoliberalisme sangat lah jauh. Salah satu indikator dari ekonomi neoliberalisme adalah seberapa jauh peran negara dalam perekonomian.

Padahal di Indonesia, justru peran pemerintah sangat besar bagi perekonomian Indonesia. Badan-badan usaha pemerintah juga memberikan kontribusi yang cukup besar. Kalau pun mau dilihat dari peran Foreign Direct Investment (FDI) terhadap PDB, nilainya cukup kecil di Indonesia.

"Porsi FDI terhadap PDB di Indonesia tu masih relatif kecil kalau dibandingkan dengan yang lain. Mungkin untuk 2-3 sektor seperti pertambangan, FDI besar, tapi yang lain kan tidak? Bahkan untuk sektor perbankan, bank BUMN justru mendominasi," katanya.

Neoliberalisme juga memberikan batasan-batasan yang sangat kecil bagi pelaku usaha. Sementara di Indonesia pembatasan terhadap pelaku usaha sangat banyak, misalnya dengan kehadiran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

"Di Indonesia, institusi mengambil peran yang penting, sementara neoliberalisme institusi tidak diperhatikan. Padahal kita sangat memperhatikan, contohnya kehadiran KPPU yang menjadi wasit jika ada monopoli," katanya.

Dari sisi utang luar negeri, Anton menjelaskan bahwa saat ini justru sudah dikelola dengan baik meski manajemen utangnya masih perlu ditingkatkan.

"Ke depannya, bagaimana utang itu bisa digunakan dengan lebih efektif. Jadi jangan banyak yang bocor atau terlambat pelaksanaan proyeknya," katanya.

Sosok Boediono, lanjut Anton, justru dikatakan memiliki program yang cukup kuat untuk penurunan utang-utang asing. Seperti diketahui, Boediono ketika tahun 2001-2004 menjabat sebagai Menkeu, memfokuskan perhatian pada konsolidasi fiskal.

"Program utamanya adalah konsolidasi fiskal dalam arti mencoba menyelamatkan fiskal supaya kuat dan kelihatan juga didalamnya penurunan utang-utang luar negeri yang terkait CGI. Kalau kayak gitu berarti dia cukup care dengan soal utang luar negeri," katanya.

Apa sebenarnya paham ekonomi Indonesia? Anton menyebutnya sebagai paham campuran. "Kita menggunkan mekanisme pasar, dimana mekanisme pasar lebih bisa berjalan mendukung efisiensi dan produktivitas, tapi tidak kebablasan dalam artian membiarkan yang besar berkuasa, yang kecil akan mati," katanya.

Terkait rencana SBY memilih Boediono sebagai cawapres, Anton melihatnya dari 3 sisi:
- Pertama, Boediono dinilai sebagai orang yang bersih, anti korupsi dan tidak terlibat bisnis apapun, serta hidupnya penuh kesederhanaan. "Dia bukan tipe orang pebisnis sehingga proyek tidak akan tercampuri oleh dirinya atau keluarganya," jelas Anton.

- Kedua, hal itu menunjukkan bahwa ekonomi masih menjadi prioritas pemerintah dalam 5 tahun ke depan, apalagi di tengah situasi krisis.

- Ketiga, untuk meredam pertikaian antara parpol yang memperebutkan posisi tersebut.

Kamis, 12 Februari 2009

Lebih Sehat dengan Mengukus Makanan


Siapa yang tak suka ikan bakar atau daging panggang? Rasa gurih dipadu dengan saus yang manis ditambah sambal yang pas tingkat kepedasannya membuat kita menelan ludah. Namun, makanan yang diolah seperti ini, kita semua tahu, sebenarnya kurang memberikan manfaat bagi kesehatan. Kecuali, tentunya, urusan kenyamanan di lidah. Mengukus makanan lebih disarankan. Mengapa demikian?


Sayuran yang dikukus menggunakan alat pengukus makanan dapat mempertahankan kandungan flavanol (konsentrat alami dari tumbuhan yang dapat berfungsi sebagai antioksidan) dan vitamin. Jadi, daripada Anda mengonsumsi sayuran mentah, seperti lalapan, memasak dengan cara mengukusnya jauh lebih baik.


Selain sayuran, bahan makanan yang juga baik dimasak dengan cara dikukus adalah ikan. Ikan kukus akan mempertahankan cita rasa dan kandungan gizi seperti asam lemak Omega-3 yang ditemukan dalam semua makanan laut. Dengan mengukus, daging ikan tidak akan hancur selama proses memasak dalam food steamer. Bandingkan jika Anda merebus, memanggang, menumis, atau memanaskan ikan dengan cara lain. Ikan akan kehilangan gizinya.


Dengan mengukus makanan menjadi bebas lemak, dan menjadi lebih sedap. Tentu, kita yang terbiasa menggoreng atau membakar ikan akan sulit menikmati ikan kukusan pada awalnya. Namun hal ini merupakan perubahan yang sederhana dari kebiasaan atau pola makan kita yang kurang sehat.


Melindungi vitamin dan mineral


Tak hanya sayuran dan lauk-pauk, jenis karbohidrat seperti beras merah sebaiknya juga dimasak dalam food steamer karena ini satu-satunya metode memasak yang menjamin penyimpanan vitamin B1 yang kaya akan vitamin dan garam mineral. Pengukus makanan akan meminimalisasi risiko kehilangan vitamin penting dan gizi. Sedangkan membakar makanan akan menghancurkan sebagian besar keuntungan dari sisi kesehatan.


Makanan yang dikukus hanya akan mengurangi asam folat sebanyak 15%. Bandingkan dengan merebus yang akan mengurangi asam folat hingga 35%. Kandungan vitamin C pada makanan kukusan juga hanya berkurang 15%, sedangkan merebus akan menghilangkan vitamin C sebanyak 25%.


Anda juga tak perlu mengkhawatirkan hal-hal lain seperti rasa yang akan tercampur jika mengukus dua atau lebih jenis sayuran dalam pengukus makanan yang sama. Kecuali Anda terlalu lama mengukus, makanan tidak akan hancur. Mengukus juga lebih praktis karena Anda tak perlu menyaring makanan. Makanan pun lebih cepat matang.


Jenis makanan yang bisa dikukus:


1. Sayuran seperti wortel, kentang, parsnip (semacam wortel), buncis, dan lain sebagainya. Sayuran hijau biasanya akan sedikit berubah warnanya. Kentang yang dikukus bersama dengan kulitnya juga lebih mudah dikupas.


2. Kebanyakan ikan dapat dikukus seluruhnya, atau dibuat fillet lebih dulu. Bumbui ikan dengan ringan, lalu tetesi dengan lemon untuk menghilangkan amis.


3. Potongan daging sapi atau unggas dapat dikukus karena merebus dan memasaknya butuh waktu yang sama. Merebus daging memang sehat, namun cenderung mengurangi cita rasa. Tak heran kadang-kadang Anda butuh saus untuk membuatnya lebih sedap.


4. Dimsum, atau dumpling (semacam siomay atau bakpao) tentu juga perlu dimasak dengan cara dikukus.

din

Sumber : Glamour

kompas.com edisi 13 Februari 2009