Jumat, 31 Juli 2015

Sharing Economy: Hotel vs AirBnB



Sharing economy adalah sebuah mantra keren yang saat ini sedang hot-hotnya dibahas di dunia bisnis. Apa itu sharing economy? Sederhananya begini: ada beberapa cara untuk memenuhi kebutuhan kita. Pertama dengan cara membarter apa yang kita punya dengan orang lain punya alias sama-sama butuh. Cara kedua adalah dengan cara membeli dari yang punya apa yang kita butuhkan tapi tidak membutuhkan yang kita punya. Mereka butuhnya duit kita.... hehehe. Dalam hal ini hubungannya sebagai produsen dan konsumen atau penjual dan pembeli. Kalau sharing economy itu ya bila kita punya sesuatu yang berlebih kemudian kita share (berbagi) dengan orang lain yang membutuhkan. Tentunya tidak gratis ya. Terjadi transaksi di sini antara orang dengan orang atau peer to peer transaction.

Sejak dulu sharing economy sudah biasa dilakukan tapi caranya masih offline. Misalnya masyarakat di daerah Kuta yang terkenal dengan pantai dan sunsetnya yang indah itu sudah biasa berbagi sebagian area rumahnya (tepatnya kamar tidurnya) yang lebih untuk para surfer dari Aussie itu. Masyarakat lokal mempunyai suplai kamar yang lebih sementara si pelancong sedang butuh tempat untuk berteduh selama liburan di Bali. Inilah bentuk sharing economy.

Nah, sekarang dengan adanya teknologi internet sharing economy menjadi semakin mudah. Dalam tulisan ini saya hanya fokus membahas sharing economy di sektor pariwisata khususnya bidang akomodasi. Ada beberapa website yang memfasilitasi sharing economy. Salah satu contohnya yang lagi hot adalah AirBnB (www.airbinb.com). Yang lainnya ada juga, misalnya HomeAway.com atau VRBO.com. Website ini memudahkan para pemilik property yang ingin berbagi ruang dengan mereka yang membutuhkan melalui platform dunia maya.

Coba bayangkan diri Anda yang ada di Indonesia ingin jalan-jalan let’s say ke Roma di Italia sana. Jadi cukup masuk ke salah satu website tersebut lalu masukkan lokasi yang Anda inginkan dan tanggalnya. Klik search. Muncullah pilihan-pilihan kamar-kamar yang tersedia beserta harganya. Kalau sudah merasa sreg dengan salah satunya ya tinggal lanjut klik klik saja. Maka beberapa saat atau beberapa harinya pemilik properti akan menjawab email Anda untuk melanjutkan transaksi dan hal-hal lainnya.

Sebenarnya sangat menarik juga untuk mencoba melakukan perjalanan ke negeri asing dan tinggal di rumah penduduk lokal. Pengalaman yang didapat pastilah jauh berbeda dibandingkan kalau kita menginap di hotel konvensional. Kita merasa seperti halnya orang lokal saja. Makan di tempat orang sana biasa makan. Bergaul dengan orang-orang lokal dan hidup di lingkungan lokal. Apalagi kita beruntung mendapatkan host atau tuan rumah yang baik.... wow feel so special deh.

Dalam diskusi dengan teman-teman sesama pelaku bisnis perhotelan di Bali sering timbul pertanyaan apakah sharing economy ini akan mengancam bisnis hotel konvensional. Saya sendiri berpendapat ya pasti berpengaruh. Secara kuantitas jumlah wisatawan yang datang ke Bali meningkat setiap tahun. Namun banyak yang mengeluh ke mana perginya wisatawan itu karena banyak hotel yang masih sepi juga. Memang jumlah hotel meningkat belakangan ini. Tapi fakta di lapangan juga menunjukkan banyak wisatawan yang tinggal di villa-villa atau rumah pribadi dengan perantaraan AirBnB dan teman-temannya itu.

Lalu akankah hotel akan kehilangan relevansinya seperti halnya CD dan DVD yang punah digantikan oleh file mp3? Saya rasa tidak. Bisnis akomodasi tidaklah sesimpel itu. Akomodasi itu adalah jasa, bukan produk. Demikian juga hotel. Tergantung kepiawaian pengelola saya yakin hotel tidak akan bernasib seperti CD dan DVD. Ada beberapa hal yang tidak bisa diberikan oleh villa-villa atau rumah-rumah pribadi tersebut. Apa itu? Salah satunya adalah safety atau rasa aman. Apakah Anda yakin bahwa orang yang punya rumah tersebut orang baik-baik? Ada beberapa kejadian buruk yang menimpa penyewa. Apalagi biasanya pemilik tersebut tidak terdaftar secara resmi. Banyak rumah/villa yang lokasinya terpencil dan tidak dilengkapi dengan penjaga. Wow…. Pastinya ada resiko keamanan di sana. Faktor lainnya adalah kelengkapan fasilitas. Di antaranya fasilitas makan minum dan fasilitas rekreasi. Kalau Anda tinggal di hotel tentunya hal tersebut bukan masalah.

Lalu mana yang lebih baik? Ya tergantung Anda sendiri. Setiap orang punya preferensi masing-masing. Sharing economy pastinya lebih murah, lebih terasa kelokalannya. Namun minusnya juga ada seperti paparan tadi. Tinggal di hotel bisa jadi lebih mahal tetapi kita mendapatkan perasaan aman. Nah ini yang sebenarnya mahal. Tapi gak apa-apalah mahal yang penting nyaman.

Silakan tentukan sesuai pilihan masing-masing ya. Jadilah traveller yang pintar, periksa dulu review atau komentar yang saat ini gampang sekali didapatkan di website.

Semoga bermanfaat.

Rabu, 09 April 2014

Empat Syarat Menjadi Caleg yang Dicintai Pemilih (Catatan Pemilu Legislatif 2014)





Ah, biasa saja.


Itu kesan saya tentang Pemilu Legislatif 2014 yang dilaksanakan hari ini, 9 April 2014. Sebagai warga negara yang baik saya sudah menggunakan hak pilih saya secara bertanggungjawab jam 8 pagi tadi di TPS 17 di Balai Banjar Kehen, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur. Seperti pemilu-pemilu dan pemilukada yang lalu, kita pakai pakaian adat Bali tingkat madya. Nuansa Balinya kental banget. Maka tuntas sudah kewajiban untuk memilih wakil yang akan duduk di DPRD Kota Denpasar, DPRD Bali, DPR Pusat dan DPD yang akan mewakili Bali.

Jadi sekali lagi biasa-biasa saja kesannya. Tidak seseram dulu waktu jam Pak Harto. Tidak ada ketegangan, tidak ada deg-degannya. Panitia TPS, pemilih, pemantau semuanya saling melempar senyum, suasananya adem. Saksi yang dikirim partai juga sangat santai. Ada dua saksi kakak beradik menjadi saksi dari dua partai berbeda. Tidak masalah. Fine fine saja.

Justru memilih calon yang akan dicoblos itu malah yang sulit. Calon legistlatif (caleg) yang ada kurang begitu berkesan. Banyak caleg yang rekam jejaknya kurang terpuji di masyarakat. Beberapa calon lain juga kurang dikenal namun tiba-tiba mencalonkan diri. Wah susah kalau begini. Saya sendiri punya beberapa kriteria ideal untuk untuk seorang calon legislatif layak dipilih. Mau tahu? 

Ini dia:

1. Bersih
Yang satu ini syarat utama. Caleg tidak boleh korupsi. Baru jadi caleg saja sudah tidak boleh korupsi apalagi kalau nanti sudah duduk sebagai anggota dewan. Dia mesti bersih dari tindakan korupsi. Selain bersih dari korupsi dia juga harus bersih dari tindakan tidak terpuji lainnya. Bagaimana mungkin kita memilih penjahat sebagai wakil rakyat. Penjudi juga tidak masuk hitungan. Pemabuk, penipu dan segala tindakan bermoral lainnya harus kosong dari rekam jejaknya. Pendek kata si caleg harus layak untuk dijadikan panutan. Bagaimana dengan peselingkuh?.... hmmm ... tidak juga deh.

2. Punya pengalaman berkecimpung di organisasi masyarakat
Ketika duduk di legislatif maka akan diperlukan kemampuan untuk berorganisasi yang baik. Kemampuan untuk menjadi pemimpin ataupun menjadi yang dipimpin. Harus tahu hubungan kerja antar organisasi dan instansi sehingga nanti bisa bekerja sama dengan baik. Setidaknya seorang caleg harus pernah menjadi pengurus organisasi masyarakat, setidaknya di tingkat desa. Dari pengalaman ini dia akan mampu menyerap aspirasi masyarakat yang diwakili dan memperjuangkan aspirasi itu kepada yang jalur yang semestinya.

3. Tahu tugas dan kewajiban sebagai wakil rakyat
Menjadi wakil rakyat itu berbeda dengan menjadi kepala daerah. Banyak yang salah kaprah. Waktu kampanye banyak caleg yang berjanji muluk-muluk layaknya kampanye pilkada bahwa dia akan melakukan hal-hal yang sebenarnya di luar kewenangan anggota dewan. Namanya juga anggota legislatif ya fungsi utamanya sebagai pembuat legislasi, menyusun anggaran, monitoring. Dia harus punya kemampuan menyusun aturan, perda, undang-undang dan lain-lain. Kalau tidak punya persyaratan no 1 dan 2 di atas saya ragu seorang anggota dewan akan mampu menyusun peraturan dengan baik. Akan gagap menyusun anggaran dan akan lembek dalam mengawasi kinerja eksekutif. Dia harus tahu sampai di mana batas-batas kewenangannya.

4. Peduli
Karakter lain yang sangat penting adalah adanya rasa peduli. Jangan hanya peduli pada saat menjelang pemilu saja. Jangan hanya peduli pada yang memilih dia saja. Dia harus peduli pada semua lapisan masyarakat yang ada di daerah pemilihannya. Dengan kewenangan yang dipunyai seandainya dia terpilih untuk duduk di kursi anggota dewan, rasa peduli ini akan menjadi modal utama dalam menyusun legislasi, menyusun anggaran dan melakukan pengawasan. Tanpa rasa peduli makan masa lima tahun akan sia-sia. Jadi kita harus cerdas menilai calon mana yang memang dari sananya memang punya rasa peduli. Ada atau tidak ada pemilu dia selalu peduli dengan masyarakat. Dialah yang layak dipilih. Yang pedulinya dadakan pas pemilu saja tolong dihapus dari daftar.

Saya kira 4 itu yang penting di samping banyak kriteria yang lain. Tidak perlu banyak keluar uang untuk menyuap pemilih. Kalau karakter di atas sudah melekat pada diri si caleg, pasti dia terpilih.

Pemilu Legislatif 2014 bagi saya biasa saja. Mungkin ini merupakan bentuk kedewasaan masyarakat dalam memilih. Mudah-mudahan pemilu kali ini menghasilkan anggota dewan yang lebih berkualitas. 

Bagaimana menurut Anda? Ayo saya tunggu komentarnya.


Rabu, 05 Februari 2014

Naik Kereta Komuter di Kuala Lumpur


Kami memilih Bangkok dan Kuala Lumpur untuk mengisi liburan keluarga tahun 2013, tepatnya bulan Oktober. Walaupun bukan dari keluarga kaya saya berusaha untuk memberi prioritas untuk berlibur dengan istri dan anak-anak tercinta. Saya yakin dengan melihat tempat-tempat baru akan membawa manfaat yang baik bagi kami terutama buat anak-anak. Banyak hal baru yang kami lihat, banyak kenangan indah yang akan kami ingat di kemudian hari nanti. Bahasa yang berbeda, makanan yang terasa asing di lidah, adat kebiasaan yang unik dari masyarakat di sana. Satu hal yang paling saya sukai adalah bila ada hal-hal yang baik di tempat tersebut yang layak untuk kita tiru dan terapkan di kampung halaman.

Setelah tiga hari di Bangkok kami melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur Malaysia. Memang hubungan antara Indonesia dan negeri jiran ini memang sering bikin panas dingin karena beberapa isu seperti masalah TKI maupun klaim budaya yang sering dilakukan pihak Malaysia. Itulah yang membuat kami tambah penasaran. Yah, demikian memang dinamika hubungan negara bertetangga. Sama seperti dengan hubungan kita dengan tetangga. Kadang mesra kadang tanpa tegur sapa.

Harus saya akui bahwa Kuala Lumpur sudah lebih maju daripada Jakarta. Infrastrukturnya lebih bagus, kebiasaan warga kotanya pun sudah modern. Lebih bersih, lebih rindang, tidak ada pengemis di jalan, lebih teratur. Jaringan transportasi umum juga sangat bagus dan terhubung dengan baik ke berbagai tempat penting maupun destinasi wisata. Bukannya tidak ada macet seperti di Denpasar atau Jakarta. Tapi macet di sana masih lebih beradab tanpa suara klakson dan tanpa saling serobot atau sepeda motor naik trotoar.

Dibandingkan dengan KL, Bali sebenarnya punya lebih banyak tempat wisata yang lebih menarik dan unik. Tiga hari di KL membuat saya mati gaya untuk menentukan tempat mana yang akan dikunjungi. Anak-anak saya sudah cukup besar (11 dan 15 tahun). Mereka sudah pernah ke beberapa tempat seperti Universal Studio Singapura, Ancol, Trans Studio Bandung. Jadi tempat-tempat yang berbau theme park seperti Sunway Lagoon, KL Aquarium dan lain lain tidak begitu menarik lagi buat mereka. Shopping juga bukan hobi mereka, kecuali ibunya... hahaha. Agar lebih berpetualang kami akhirnya memilih untuk berkunjung ke Batu Caves, sebuah tempat ibadah umat Hindu di sedikit di luar KL. Staff Club Lounge di Grand Hyatt Kuala Lumpur menyarankan kami untuk naik kereta komuter. Selain murah juga bersih dan tepat waktu katanya.

Maka kamipun mengikuti saran mereka. Kami berangkat dari stasiun (bahasa Malaysia-nya 'stesen') yang ada di bawah menara kembar Petronas menuju KL Central. Memang benar. Keretanya bersih, tepat waktu. Tiketnya pun cukup murah. Tinggal beli di konter atau di mesin seperti mesin ATM. Setelah melewati beberapa 'stesen' akhirnya kami sampai di Batu Caves. Kurang lebih memerlukan sekitar 25 menit waktu tempuh dari KL Central. Perjalanan yang nyaman karena keretanya bersih, sejuk, tepat waktu. Dan yang paling penting adalah rasa aman. Ada petugas pemeriksa karcis yang sepertinya juga sebagai pengawas keamanan yang selalu siaga. Pulangnya kami juga naik kereta ini sampai 'stesen' semula.

Saya tidak ingin bercerita tentang Batu Caves kali ini. Mungkin di waktu yang lain saja. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah sebuah ide. Mungkinkah di Bali kita buat jaringan kereta api komuter yang menghubungkan semua tempat wisata di Bali dengan aman, nyaman, murah dan tepat waktu? Saya rasa sangat mungkin, tergantung kemauan dari pemerintah dan dukungan masyarakat. Dengan sistim transportasi yang tidak teratur saat ini menyebabkan polusi di mana-mana termasuk di tempat-tempat wisata yang jauh di pelosok desa. Kawasan wisata Besakih yang nota bena merupakan kawasan suci umat Hindu terkena polusi asap kendaraan yang luar biasa. Belum lagi waktu yang banyak terbuang percuma karena terjebak kemacetan di mana-mana. Tentu hal ini akan menjadikan Bali semakin kalah dalam persaingan dengan destinasi wisata lain di dunia.

Kalau ini terwujud maka kemacetan akan berkurang. Demikian juga polusinya. Waktu wisatawan jadi lebih efisien sehingga lebih banyak waktu yang bisa dipakai untuk menikmati segala atraksi yang disediakan oleh objek wisata. Efisiensi biaya transportasi akan beralih kepada meningkatnya anggaran dari wisatawan untuk sektor lain seperti toko souvenir, warung makan maupun penginapan lokal.

Tentu akan ada protes dari warga masyarakat yang selama ini menggantungkan nafkahnya dari menjual jasa angkutan wisata. Tentu saja harus dicari pemecahannya. Bisa saja kendaraan mereka dijadikan semacam 'feeder' untuk mendukung sistim transportasi masal ini. Selalu ada saja pengorbanan untuk sesuatu yang lebih baik. Dan untuk itu perlu kesadaran dan dukungan warga.

Saya berkhayal suatu hari akan naik kereta komuter dari Stasiun Kuta ke Stasiun Besakih pergi-pulang. Semoga Anda juga mempunyai khayalan yang sama.


Kamis, 07 Maret 2013

Nyepi di Hotel Yuukkk!


Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari-hari ini email saya dipenuhi oleh informasi yang menawarkan paket Nyepi di hotel-hotel berbintang yang ada di Bali. Sebagian besar menawarkan paket menginap 2 malam lengkap dengan makan minum dan segudang fasilitas rekreasi. Mungkin nampak biasa bagi orang kebanyakan karena paket ini menawarkan kenyamanan bagi umat yang beragama lain yang tinggal di pulau mungil ini untuk menghindar dari keharusan untuk menderita (dalam tanda kutip) pada saat Nyepi dengan mengungsi ke hotel. Tapi yang cukup membuat sedih adalah banyak juga orang Bali yang notabene Hindu yang ikut tergoda rayuan ini. Banyak rekan yang bahkan sengaja 'escape' menghilang dari Bali pada momen tahunan ini sekedar untuk menjauh dari keharusan untuk bergelap gulita, berdiam di rumah seharian. Jauh sebelum Nyepi mereka sudah memesan tiket ke Singapura, Jakarta ataupun kota-kota di Jawa.

Nyepi yang seharusnya menjadi momentum untuk berkontemplasi saat ini sudah menjadi sebuah rutinitas belaka setiap tahunnya. Nampak meriah di sisi luar dengan semaraknya pawai Ogoh-Ogoh namun di sisi dalam ia semakin kehilangan makna. Dan saya pun menduga ini adalah efek negatif dari pariwisata materialistis yang saat ini sedang kita kembangkan. Ataukah ini pertanda hegemoni budaya hedonis yang kini menjadi agama baru kaum kita?

Tanpa bermaksud menggurui, bagi saya Nyepi adalah sebuah momen yang sangat istimewa. Hanya di hari itu saya bisa lagi mendengar nyanyian burung, desir angin, gemericik air dan suara-suara alam lainnya yang setiap hari kalah dengan deru roda kehidupan di tempat tinggal saya di Denpasar. Di hari itu kami sekeluarga biasanya hadir lengkap. Di hari itu dunia seakan berhenti berputar, memberi ruang bagi kita untuk merenungkan makna sejati kehidupan. Hari itu bukanlah penderitaan, hari itu adalah kesempatan yang amat langka.

Selamat hari raya Nyepi tahun Caka 1935.

Minggu, 03 Juni 2012

Bandung Jakarta Naik Kereta Api






5 Februari 2012.

Receptionist di Hyatt Regency Bandung bertanya ke saya, "Pak, ke Jakarta naik apa besok? Sudah pesan kendaraan?". "Oh iya, kami akan naik kereta api eksekutif Parahyangan jam 3 sore. Apa bisa diantar ke stasiun gak?. Ternyata sang reseptionist terheran-heran mendengar jawaban saya. Biasanya orang Jakarta yang ber-weekend di Bandung kalau balik ke Jakarta naik mobil pribadi atau travel. Mungkin juga dia pikir ini orang Bali kok naik kereta? Kan lebih cepat naik travel, langsung bisa sampai di alamat yang dituju. Hehehe... saya bilang ke dia bahwa saya cuma ingin coba saja berhubung di Bali tidak ada kereta api. Saya ingin memberikan pengalaman menggunakan berbagai moda transportasi untuk anak-anak saya. Di samping itu, dengan menggunakan kereta kami masih bisa melihat suasana pedesaan di pinggir rel kereta yang tentunya akan terlewat bila naik pesawat.

Sampai di stasiun Bandung ternyata masih banyak waktu yang tersisa. Kami sempat keliling-keliling sekitar stasiun. Stasiunnya masih berupa bangunan peninggalan Belanda yang dirawat dengan baik. Mungkin dari sisi kebersihan maupun penataan area komersialnya yang perlu diperbaiki lagi karena mengganggu kenyamanan penumpang.

Kereta api Bandung - Jakarta sore itu tidak terlalu ramai. Di gerbong tempat saya dan keluarga hanya terisi kurang dari setengah. Ruangannya bersih dan jarak antara kursi sangat lebar. Sangat nyaman untuk selonjor kaki. Tidak seperti kursi pesawat low cost airline biasanya. Kalau mau pesan makanan juga bisa. Tinggal pesan yang disuka nanti langsung diantar ke kursi masing-masing. Kecepatan kereta mungkin rata-rata 60 - 80 km/jam. Saya tidak tahu pasti tapi saya rasa secepat itu. Hal ini sangat menguntungkan karena kami bisa menikmati pemandangan alam yang luar biasa khususnya setelah keluar kota Bandung. Sawah, kebun maupun desa-desa kecil yang dilewati sangat mempesona. Jembatan yang membentang tinggi di atas jurang yang menakjubkan. Tidak kalah dengan apa yang tersaji di film-film Hollywood. Anak-anak bermain bola di lapangan desa mengingatkan saya pada masa kecil. Sayang setelah satu setengah jam perjalanan turun hujan. Pemandangan alam akhirnya tidak bisa terlihat jelas lagi.

Memasuki kota Jakarta, pemandangan yang disuguhkan sangat berbeda. Tempat tinggal liar di pinggir rel kereta, perkampungan yang kumuh, sampah di mana-mana. Tiga jam waktu yang dibutuhkan dari Bandung untuk sampai di Stasiun Gambir. Tiga jam yang menyajikan pemandangan yang kontras. Suasana desa yang tenang dan asri dalam suasana guyub di mana jurang antara si kaya dan si miskin tidak terlalu kentara sangat kontras dengan gemerlap Jakarta yang metropolis dan egois. Yang kaya, kaya sekali; yang miskin, miskiiiiiiin sekali.

Balik lagi ke perjalanan dengan kereta tadi. Saya pikir sebenarnya negara kita mempunyai potensi pariwisata yang sangat luar biasa. Wisata dengan kereta dari Jakarta ke Bandung sangat layak dijual. Tentunya dibutuhkan pengelolaan yang lebih baik dan dipasarkan dengan profesional. Panorama alam yang tersaji sangat luar biasa. Saya membayangkan apabila keindahan ini diabadikan oleh fotografer-fotografer handal yang banyak kita miliki. Wow, pasti sangat fantastis hasilnya. Tinggal sekarang siapa yang mau memulai menggarap ini. Ayo siapa berani?





Mana Mungkin Orang Bali Bisa jadi General Manager Hotel?



Tamat SMA dulu tahun 1989 saya menghadapi dilema yang cukup berat. Niatnya memang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu masuk universitas, ambil jurusan arsitektur karena memang cita-citanya mau ke sana. Dari sisi bekal ilmu sebenarnya cukup mendukung. Saya tamat dari jurusan fisika dan nilai-nilai pelajaran eksak juga sangat baik. Matematika, fisika, kimia lumayan di atas 9 semua. Bahasa Inggris juga OK. Namun saya harus berhadapan dengan realita. Kalaupun orangtua bisa membiayai saya sampai tamat kuliah arsitek, saya yakin adik-adik saya bakal hanya mampu sekolah sampai SMA saja. Maklumlah ayah hanya seorang tukang bangunan dan ibu seorang ibu rumah tangga yang juga membantu mencari nafkah dengan bisnis kecil-kecilan. Namun yang saya contoh dari mereka adalah sikap jujur dan pantang menyerah. Tidak pernah sekalipun beliau mengambil rejeki dari cara yang curang.

Singkat cerita, setelah menimbang-nimbang, saya akhirnya memutuskan masuk sekolah perhotelan karena saat itu peluang kerja di hotel sangat banyak. Terdamparlah saya di BPLP Bali mengikuti program Diploma 1 Front Office. Saya pikir dengan modal nilai bahasa Inggris yang baik saya akan cocok untuk bidang itu. Sekolahnya pun hanya 1 tahun jadi cepat bisa bekerja dengan harapan bisa membantu orang tua menyekolahkan adik-adik.

Tahun 1990 saya tamat dan langsung mengirimkan lamaran ke beberapa hotel. Sempat ditolak oleh beberapa hotel tapi sempat juga menolak kesempatan kerja dari salah satu hotel. Syukur akhirnya saya diterima di salah satu hotel besar di Nusa Dua. Di sanalah saya belajar bekerja selama tujuh setengah tahun. Dari seorang karyawan biasa sampai bisa menjadi manager menengah. Perjalanan karir terus berlanjut sampai akhirnya kini setelah 20an tahun bekerja saya mencapai posisi yang diidam-idamkan oleh hampir semua karyawan hotel yaitu posisi GM, General Manager. Tentu posisi ini mempunyai tanggung jawab yang besar sehingga diperlukan orang-orang yang sudah berpengalaman untuk memegang posisi ini. Saya bersyukur karena mendapatkan kesempatan yang langka ini.

Saya sering mendengar dan membaca bahwa orang-orang yang ada di posisi puncak sering merasakan kesendirian. Kesendirian dalam arti profesional. Saya rasa hal ini terjadi di hampir semua organisasi baik itu organisasi masyarakat, sosial, bisnis maupun lainnya. Ibarat mendaki gunung, ketika kita berada di puncak kita akan merasakan kesendirian. Memang dalam membuat keputusan kita akan dibantu oleh anggota tim kita namun keputusan akhir tetap ada di tangan kita. Karena itu kitalah yang paling bertanggungjawab atas segala hasil dari keputusan yang diambil. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kesendirian dari Presiden RI dalam memutuskan hal-hal yang penting buat negara ini.

Salah satu cara mengatasi kesendirian tadi adalah dengan ikut aktif dalam forum-forum atau asosiasi bisnis yang melibatkan rekan-rekan sesama GM. Ada beberapa di Bali seperti PHRI, BHA ataupun SKAL Club. Bagi yang suka bergiat di bidang sosial banyak yang ikut Rotary Club. Di sana biasanya berkumpul para GM atau eksekutif hotel-hotel di Bali yang secara rutin bertemu baik dalam acara yang santai ataupun yang lebih serius membicarakan hal-hal yang menyangkut pariwisata Bali khususnya bidang perhotelan. Bagaimana caranya agar kita tidak tertinggal dari pesaing-pesaing kita, bagaimana caranya menjalankan pariwisata yang berkelanjutan tanpa merusak lingkungan agar bisa dinikmati oleh generasi mendatang.

Ada satu hal yang cukup menggelitik perhatian saya dalam hal ini. Dalam beberapa forum yang saya ikuti sangat jarang ada GM yang orang Bali di sini. Selain saya paling ada lima orang Indonesia lainnya. Itupun tidak semua orang Bali. Sebagian besar orang-orang asing. Bukan bermaksud SARA karena jaman sudah global. Namun pertanyaannya ke manakah GM orang-orang Bali ini? Apakah saya yang salah tempat?

Belum ada data mengenai berapa banyak orang Bali yang menjabat posisi ini. Tapi saya tahu sudah banyak teman-teman Bali yang memegang posisi ini sekarang. Mungkin mereka merasa organisasi di atas tadi adalah untuk orang-orang asing. Namun harus diakui bahwa untuk saat ini kemampuan GM asing memang masih di atas kita. Perkataan saya ini pasti banyak yang bakal mendebat. Itu boleh-boleh saja. Tapi paling tidak dari sisi networking, penguasaan bahasa Inggris dan pemahaman budaya para turis asing yang berwisata ke Bali, mereka lebih mumpuni. Saya sendiri tidak jarang harus belajar dari mereka tentang beragam hal. Saya merasa beruntung punya seorang mentor GM asing yang sangat membantu mengembangkan diri saya. Banyak sekali pola pikir dan cara pandang mereka yang berbeda dengan kita. Tentu tidak semuanya sesuai dengan kebudayaan kita tapi sangat banyak yang lebih baik dari cara kita memandang. Terserah kita untuk menyaringnya.

Saya bermimpi bahwa pada suatu saat dalam forum-forum ini saya akan melihat kehadiran lebih banyak GM-GM Bali. Kita harus menunjukkan eksistensi bahwa SDM Bali tidak kalah dengan daerah lain ataupun dari SDM luar negeri. Kehadiran kita di forum-forum ini akan memberikan warna yang berbeda. Kita bisa memberikan suatu masukan yang berharga buat kelestarian pulau yang indah ini.

Semoga.

Jumat, 01 Juni 2012

Ada Pesan Cinta di Pantat Truk

Tahun 2010 lalu, tepatnya mulai 1 Oktober saya pindah kerja dari Jimbaran ke Seminyak. Kalau dari rumah di Kesiman ke Jimbaran biasanya saya tempuh dalam waktu satu jam. Nah sekarang dari rumah ke Seminyak waktunya berkurang jadi 45 menit. Itu dulu, tahun 2010. Tapi sekarang sudah balik lagi ke waktu tempuh satu jam. Inilah dampak negatif dari perkembangan ekonomi yang sangat baik tapi tanpa diimbangi dengan perkembangan infrastruktur yang sesuai. Masyarakat dimanjakan dengan uang muka yang ringan untuk kredit sepeda motor maupun mobil namun jalan raya hanya segitu-gitu saja.

"Tidak usah mengeluh, nikmati saja", gerutu saya dalam hati. Untuk mengisi waktu sambil menyetir saya sekarang punya kebiasaan baru yaitu update status di facebook lewat telepon genggam saya. Sambil menyetir saya dengar radio. Nah dari siaran radio ini biasanya tercetus ide-ide status facebook yang enak untuk di-posting. Jadi waktu terjebak macet atau pas nunggu lampu merah maka secepatnya saya update status yang muncul di pikiran.

Kebetulan saat ini di tempat saya bekerja kami memasarkan hotel secara online. Maka mau tidak mau saya harus menceburkan diri saya ke segala hal yang berhubungan dengan dunia internet marketing. Salah satunya marketing melalui sosial media. Dalam perjalanan memburu ilmu sosial media marketing itu saya pernah membaca sebuah artikel tentang posting apa saja yang mendapatkan respon tinggi di Facebook. Jawabnya ada 3 (kalau tidak salah). Status yang diposting harus memenuhi unsur relevance, recency dan trend. Artinya status yang kita posting harus berhubungan dengan audien, harus masih anyar dan sedang dibicarakan.

Saya iseng-iseng coba resep tersebut dan ternyata manjur. Kalau update status tentang diri kita sedang bagaimana (galau dan kawan-kawannya) atau kita sedang melakukan apa biasanya tidak begitu mendapat tanggapan dari teman-teman. Tapi begitu saya posting status tentang isu terkini dan relevan dengan teman-teman saya maka mendadak sontak respon segera mengalir.

Namun ada satu hal lagi yang cukup mengena dalam hal ini. Biasanya dalam perjalanan satu menuju tempat kerja saya kadang-kadang dengan terpaksa membuntuti pantat... dalam hal ini pantat truk. Ada sesuatu yang menarik di situ yaitu tulisan-tulisan yang dirangkai dengan grafis yang indah. Pesan-pesan yang dipasang ada yang lucu, gundah dan bahkan nakal. Saya tidak tahu pasti apakah pesan-pesan ini dipilih langsung oleh sopir truk sendiri atau malah pesanan dari sang pemilik truk. Yang pasti pesan-pesan tersebut cukup menginspirasi dan membuat hilang rasa kantuk. Bisa saja pesan-pesan itu adalah curahan isi hati sang supir sendiri....hahaha. Nah ternyata posting pesan pantat truk yang saya kemas dalam bentuk "pesan pantat truk hari ini" ternyata cukup mengena unsur relevance, recency walaupun belum tentu trendy. Hasilnya respon dari teman-teman mengalir deras setiap saya posting "pantat truk". Bahkan seorang teman mengaku menunggu-nunggu terus status tersebut....hahaha

Kalau mau eksis di social media, selamat mencoba resep ini! 


Kamis, 14 Mei 2009

Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal

Saya sedang mengumpulkan beberapa artikel tentang sosok Pak Boediono yang sekarang sedang hangat dibicarakan orang karena jadi cawapresnya SBY. Kebetulan tadi waktu buka kompas.com ketemu artikel di bawah ini. Yang nulispun bukan orang sembarangan yaitu Faisal Basri, salah satu ekonom nasional yang kita. Selama ini Faisal Basri kita kenal sebagai tokoh yang kritis terhadap perekonomian nasional kita. Saya yakin apa yang dia tulis di blog pribadinya ini sangat valid. Selamat membaca!

===============================================================

Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal
Oleh Faisal Basri - 14 Mei 2009 - Dibaca 5126 Kali -

Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata ”sinopsis,” ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.

Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.

Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak BOed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa transisi.

Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet,” jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.

Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah … Keesokan harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.

Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.
Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.

Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.

Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di bandara Soekarno Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.

Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari mobil dinas gubernur.
Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.

Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.

Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, bagi kemajuan Bangsa.

Ekonomi Neoliberal, Masih Adakah?

Menarik juga untuk mengikuti perkembangan proses penentuan capres dan cawapres. Begitu SBY mengumumkan memilih Boediono sebagai cawapres, banyak pihak yang tidak setuju dengan Gubernur BI ini menyerang dengan mengatakan bahwa Boediono menganut paham ekonomi Neoliberal. Apa itu paham Neoliberal? Tulisan yang saya copy dari detik.com edisi hari ini rasanya cukup membantu kita untuk memahami wacana ini secara lebih berimbang. Selamat membaca

-------------------------------------
Ekonomi Neoliberal, Masih Adakah?

Jakarta - Kalimat ekonomi neoliberal sedang jadi tren menjelang pemilihan presiden. Mencuatnya Boediono sebagai cawapres pun lantas dikait-kaitkan dengan paham ekonomi neoliberal itu. Benar kah? Bagaimana sebetulnya ekonomi neoliberal ini?

Ekonomi neoliberal diartikan sebagai filosofi ekononomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestik. Ekonomi neoliberal fokus pada metode pasar bebas dan sangat sedikit membatasi perilaku bisnis dan hak-hak milik pribadi.

Dalam pandangan kepala ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan, saat ini susah untuk mencari negara yang menerapkan model ekonomi neoliberal secara murni. Amerika Serikat (AS) yang disebut-sebut menerapkan ekonomi neoliberal sebenarnya tak lagi secara murni menerapkan teori itu.

"AS sebenarnya tidak purely ekonomi neoliberalisme. Segala sesuatunya ada UU. Bahkan sekelas Microsoft pun kena aturan. Mereka sendiri secara relatif kalau bikin spektrumnya relatif sebelah kanan, lebih ke sangat terbuka, sangat bebas. Tapi mereka juga mengimbangi untuk menolong masyarakatnya, dengan modal security system untuk menolong masyarakat yang tidak mampu," urai Anton dalam perbincangannya dengan detikFinance, Kamis (14/5/2009).

Negara mana yang kini menerapkan neoliberalisme? "Sekarang susah kalau mau mencari yang purely neoliberalism," ujar Anton.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?Anton menjelaskan, dari banyak sisi, mengkaitkan perekonomian Indonesia dengan paham ekonomi neoliberalisme sangat lah jauh. Salah satu indikator dari ekonomi neoliberalisme adalah seberapa jauh peran negara dalam perekonomian.

Padahal di Indonesia, justru peran pemerintah sangat besar bagi perekonomian Indonesia. Badan-badan usaha pemerintah juga memberikan kontribusi yang cukup besar. Kalau pun mau dilihat dari peran Foreign Direct Investment (FDI) terhadap PDB, nilainya cukup kecil di Indonesia.

"Porsi FDI terhadap PDB di Indonesia tu masih relatif kecil kalau dibandingkan dengan yang lain. Mungkin untuk 2-3 sektor seperti pertambangan, FDI besar, tapi yang lain kan tidak? Bahkan untuk sektor perbankan, bank BUMN justru mendominasi," katanya.

Neoliberalisme juga memberikan batasan-batasan yang sangat kecil bagi pelaku usaha. Sementara di Indonesia pembatasan terhadap pelaku usaha sangat banyak, misalnya dengan kehadiran Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

"Di Indonesia, institusi mengambil peran yang penting, sementara neoliberalisme institusi tidak diperhatikan. Padahal kita sangat memperhatikan, contohnya kehadiran KPPU yang menjadi wasit jika ada monopoli," katanya.

Dari sisi utang luar negeri, Anton menjelaskan bahwa saat ini justru sudah dikelola dengan baik meski manajemen utangnya masih perlu ditingkatkan.

"Ke depannya, bagaimana utang itu bisa digunakan dengan lebih efektif. Jadi jangan banyak yang bocor atau terlambat pelaksanaan proyeknya," katanya.

Sosok Boediono, lanjut Anton, justru dikatakan memiliki program yang cukup kuat untuk penurunan utang-utang asing. Seperti diketahui, Boediono ketika tahun 2001-2004 menjabat sebagai Menkeu, memfokuskan perhatian pada konsolidasi fiskal.

"Program utamanya adalah konsolidasi fiskal dalam arti mencoba menyelamatkan fiskal supaya kuat dan kelihatan juga didalamnya penurunan utang-utang luar negeri yang terkait CGI. Kalau kayak gitu berarti dia cukup care dengan soal utang luar negeri," katanya.

Apa sebenarnya paham ekonomi Indonesia? Anton menyebutnya sebagai paham campuran. "Kita menggunkan mekanisme pasar, dimana mekanisme pasar lebih bisa berjalan mendukung efisiensi dan produktivitas, tapi tidak kebablasan dalam artian membiarkan yang besar berkuasa, yang kecil akan mati," katanya.

Terkait rencana SBY memilih Boediono sebagai cawapres, Anton melihatnya dari 3 sisi:
- Pertama, Boediono dinilai sebagai orang yang bersih, anti korupsi dan tidak terlibat bisnis apapun, serta hidupnya penuh kesederhanaan. "Dia bukan tipe orang pebisnis sehingga proyek tidak akan tercampuri oleh dirinya atau keluarganya," jelas Anton.

- Kedua, hal itu menunjukkan bahwa ekonomi masih menjadi prioritas pemerintah dalam 5 tahun ke depan, apalagi di tengah situasi krisis.

- Ketiga, untuk meredam pertikaian antara parpol yang memperebutkan posisi tersebut.

Kamis, 12 Februari 2009

Lebih Sehat dengan Mengukus Makanan


Siapa yang tak suka ikan bakar atau daging panggang? Rasa gurih dipadu dengan saus yang manis ditambah sambal yang pas tingkat kepedasannya membuat kita menelan ludah. Namun, makanan yang diolah seperti ini, kita semua tahu, sebenarnya kurang memberikan manfaat bagi kesehatan. Kecuali, tentunya, urusan kenyamanan di lidah. Mengukus makanan lebih disarankan. Mengapa demikian?


Sayuran yang dikukus menggunakan alat pengukus makanan dapat mempertahankan kandungan flavanol (konsentrat alami dari tumbuhan yang dapat berfungsi sebagai antioksidan) dan vitamin. Jadi, daripada Anda mengonsumsi sayuran mentah, seperti lalapan, memasak dengan cara mengukusnya jauh lebih baik.


Selain sayuran, bahan makanan yang juga baik dimasak dengan cara dikukus adalah ikan. Ikan kukus akan mempertahankan cita rasa dan kandungan gizi seperti asam lemak Omega-3 yang ditemukan dalam semua makanan laut. Dengan mengukus, daging ikan tidak akan hancur selama proses memasak dalam food steamer. Bandingkan jika Anda merebus, memanggang, menumis, atau memanaskan ikan dengan cara lain. Ikan akan kehilangan gizinya.


Dengan mengukus makanan menjadi bebas lemak, dan menjadi lebih sedap. Tentu, kita yang terbiasa menggoreng atau membakar ikan akan sulit menikmati ikan kukusan pada awalnya. Namun hal ini merupakan perubahan yang sederhana dari kebiasaan atau pola makan kita yang kurang sehat.


Melindungi vitamin dan mineral


Tak hanya sayuran dan lauk-pauk, jenis karbohidrat seperti beras merah sebaiknya juga dimasak dalam food steamer karena ini satu-satunya metode memasak yang menjamin penyimpanan vitamin B1 yang kaya akan vitamin dan garam mineral. Pengukus makanan akan meminimalisasi risiko kehilangan vitamin penting dan gizi. Sedangkan membakar makanan akan menghancurkan sebagian besar keuntungan dari sisi kesehatan.


Makanan yang dikukus hanya akan mengurangi asam folat sebanyak 15%. Bandingkan dengan merebus yang akan mengurangi asam folat hingga 35%. Kandungan vitamin C pada makanan kukusan juga hanya berkurang 15%, sedangkan merebus akan menghilangkan vitamin C sebanyak 25%.


Anda juga tak perlu mengkhawatirkan hal-hal lain seperti rasa yang akan tercampur jika mengukus dua atau lebih jenis sayuran dalam pengukus makanan yang sama. Kecuali Anda terlalu lama mengukus, makanan tidak akan hancur. Mengukus juga lebih praktis karena Anda tak perlu menyaring makanan. Makanan pun lebih cepat matang.


Jenis makanan yang bisa dikukus:


1. Sayuran seperti wortel, kentang, parsnip (semacam wortel), buncis, dan lain sebagainya. Sayuran hijau biasanya akan sedikit berubah warnanya. Kentang yang dikukus bersama dengan kulitnya juga lebih mudah dikupas.


2. Kebanyakan ikan dapat dikukus seluruhnya, atau dibuat fillet lebih dulu. Bumbui ikan dengan ringan, lalu tetesi dengan lemon untuk menghilangkan amis.


3. Potongan daging sapi atau unggas dapat dikukus karena merebus dan memasaknya butuh waktu yang sama. Merebus daging memang sehat, namun cenderung mengurangi cita rasa. Tak heran kadang-kadang Anda butuh saus untuk membuatnya lebih sedap.


4. Dimsum, atau dumpling (semacam siomay atau bakpao) tentu juga perlu dimasak dengan cara dikukus.

din

Sumber : Glamour

kompas.com edisi 13 Februari 2009

Kamis, 15 Januari 2009

Syukuri AnugerahNya: Terinspirasi Puisi dari Seorang Sahabat

Istri saya kadang mengeluh ke saya. Katanya, "Pa, kamu ini lho, kok ga ada romantis-romatisnya?". Dia merasakan kasih sayang saya masih kurang lengkap kalau tidak dibumbui kata-kata puitis. Yah, mau apalagi. Saya emang sudah dari sononya begini. Saya merasa Tuhan menghadirkan saya di bumi ini dengan kekurangan dalam bidang yang satu itu. Saya merasa saya ini orang yang apa adanya. Logis, lebih cepat menangkap yang tersurat daripada yang tersirat. Kurang lebih, saya menilai diri saya sebagai orang sains. Saya tidak mampu merangkai kata yang indah sarat makna. Saya selalu mencoba menempatkan segala sesuatu secara logika. Bagi saya, wujud kasih sayang itu adalah perbuatan. Loving is doing, I do care, bukan Loving is talking atau I speak about caring. Anda boleh mendebat pendapat saya, tapi itulah saya.

Hanya satu hal yang saya luputkan dari kerangka logika saya, yakni agama yang saya imani. Saya percaya agama tidak untuk dimengerti, namun untuk dipercaya.

Walau demikian saya selalu mencoba untuk belajar menangkap makna yang tersirat dari sebuah karya sastra maupun karya seni. Kolom sastra di Bali Post edisi minggu memang menjadi salah satu menu favorit saya. Pelan-pelan saya juga memulai untuk membiasakan diri untuk menikmati karya seni, terutama lukisan. Jika ada waktu senggang saya senang juga kalau bisa melihat-lihat pameran lukisan. Sejak kecil saya memang senang ‘megambel’(menabuh gambelan Bali) dan sampai saat ini saya masih sangat menikmati saat-saat menabuh dengan rekan-rekan di kampung pada saat upacara adat. Dengan menambah kegiatan-kegiatan di bidang apresiasi seni saya berharap dapat menghaluskan rasa dan nurani.

Saya percaya dan yakin bahwa setiap orang dianugerahi olehNya kemampuan yang berbeda-beda sehingga kita akhirnya dipaksa untuk saling membutuhkan. Sekarang terserah kita, apa mau menelantarkan anugerah itu atau rajin memberinya makanan yang bergizi supaya ia tumbuh berkembang dengan sehat. Hanya kita yang bisa memutuskan.

Hari ini saya mendapat kiriman tiga buah puisi tanpa judul dari seorang sahabat. Seorang sahabat yang sudah saya kenal sejak lima tahun, kurang lebih. Saat itu kami sama-sama bekerja di sebuah hotel di Ubud. Namun sekarang kami bekerja di tempat yang berbeda walaupun sama-sama di Sanur. Saya mengelola sebuah hotel boutique, sedangkan sahabat tadi bekerja di sebuah hotel besar di Sanur sebagai sekretaris GM.

Selama ini saya tidak pernah tahu bahwa ternyata dia punya kemampuan yang cukup lumayan untuk mengarang puisi. Entahlah bagi orang lain, bagi saya puisi-puisinya sangat bagus dan sarat makna. Mungkin karena saya ini orang yang awam puisi barangkali. Ini dia puisinya:

Dia terikat dalam gelap
Terbuai dalam rasa
Dia terikat dalam harap
Terbuai dalam kata
Ketika gelap tak lagi memberi rasa
Ketika harap tak lagi berkata
Dia tetap terikat
Dia tetap dalam gelap

Inspired by Dwi

=====

Dia.....
Berjalan dalam aspal
Menari dalam rintikan
Bertahan dalam terjal
Tergelincir dalam percikan

Dia.....
Terbawa mengikutinya
Bertahan bersamanya
Tertawa menemaninya
Bersama selamanya
Hingga Ia tak lagi sanggup bertahan dalam terjal
Hingga Ia tak lagi mampu bertahan dalam rintihan

Dia.....
kini terdiam....
Tak ada lagi yang membawanya...

Inspired by Dwi (Jan'08)

=====

Kala gelap telah bersinar
Pancarannya memantulkan
Kala sunyi telah berdetak
Getarannya meluluhkan
Gelap itu kini bercahaya
Sunyi itu kini bermakna
Telah hadir sinar dalam gelap
Telah hadir detak dalam sunyi
Cahaya dalam gelap yang bermakna dalam sunyi....

Inspired by Dwi

Saya silakan Anda untuk memaknai sebebas-bebasnya. Saya hanya berusaha untuk mengasah rasa. Satu hal lagi yang ingin selalu saya ingat ‘Syukuri anugerah yang sudah kamu terima, jangan menyesali diri karena apa yang kamu inginkan belum terpenuhi’. Jadi, kepada sahabatku Dwi, asah terus kemampuanmu menulis puisi ya. Nanti pasti berguna.

Baliku sayang, sudahkan kau mensyukuri dan merawat anugerahNya?

Senin, 12 Januari 2009

Bali Kebanjiran

Sebagai orang Bali yang sudah hidup selama 38 tahun di pulau mungil ini, mendengar kata banjir atau mengalami banjir adalah hal yang sangat jarang bagi saya. Namun, apa mau dikata karena kata banjir sejak dua tahun belakangan semakin sering saya dengar dan alami.

Minggu pagi kemarin, Era (Sales Manager saya) mengirimkan pesan singkat ke ponsel saya. Isinya begini: ‘Belum pernah seumur hidup saya mengalami kebanjiran. Jam 2 pagi kamar saya kebocoran, tertidur lagi di pojok tempat tidur karena sebagian dah basah. Terbangun jam 6 tempat tidur udah ngambang. Air masuk ke dalam rumah hampir selutut. Di jalan depan rumah sampai sepaha orang dewasa. Cuaca juga masih hujan terus. Tidak bisa ke kamar mandi karena WC meluap. Syukur listrik masih menyala dan rumah tingkat, jadi bisa ngungsi di lantai dua.HP dan laptop selamat. Mobil belum bisa lihat karena belum ada yang keluar rumah. Sampai sekarang air masih naik terus di dalam rumah. Era di Sanur Bali’.

Saya pun menjawab SMS itu sekenanya seperti ini: 'Seperti cerita novel. Saatnya untuk pindah kos'. Dalam hati saya merasa prihatin juga. Era bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja tiga bulan yang lalu. Saya yakin bekerja di Bali buat dia adalah impian yang menjadi kenyataan. Sebelumnya dia kerja di Malang, yang saya yakin tidak pernah kebanjiran. Bali yang baginya merupakan pulau yang indah ternyata tidak seindah yang di tulis media. Dalam pesan singkat di atas tersirat rasa kecewa.

Awalnya saya pikir banjir hanya terjadi di tempatnya Era, di kawasan Sanur, yang memang dekat dengan muara sungai. Eh ternyata saya salah. Di Bali Post tadi pagi saya baca banjir terjadi di beberapa tempat. Denpasar, Sanur,Kuta, Gianyar dan Ubud banyak banjir juga. Tujuh mobil tenggelam, korban ditelantarkan, demikian judul headlinenya. Dalam hati saya merasa trenyuh. Ke mana Baliku yang dulu? Bali yang tidak pernah banjir.

Lalu apa sih kira-kira penyebabnya?

Saya coba untuk menghubung-hubungkan beberapa fakta yang ada. Di bawah ini hasil analisa saya:

1. Daerah resapan yang makin sempit.
Semakin bertambahnya penduduk Denpasar, Kuta dan daerah lainnya membuat semakin banyak daerah yang dulunya sawah maupun tegalan yang beralih fungsi menjadi perumahan dan perkantoran. Besarnya pertambahan penduduk lebih banyak disebabkan oleh kedatangan kaum pendatang dari kabupaten lain di Bali maupun dari daerah luar Bali. Perumahan type kecil banyak bermunculan untuk menjawab kebutuhan. Dengan tanah yang hanya 70 sampai dengan 100 meter persegi, penghuni cenderung memanfaatkan semua lahan pekarangan dengan maksimal. Setiap jengkal tanah dipasangi paving block sehingga area resapan air makin berkurang.

2. Kurangnya kesadaran masyarakat memelihara saluran drainase.
Saya yang sehari-hari hidup di Denpasar sudah sangat hafal dengan prilaku buruk dari sebagian masyrakat kita. Kebiasaan membuang sampah ke selokan maupun sungai sudah menjadi pemandangan umum. Orang yang membangun rumah baru, hanya memperhatikan sisi arsitekturnya saja. Ke mana larinya air hujan tidak pernah dipikirkan. Pengembang perumahan juga sama saja. Jalan dibuat mulus, gerbang masuk kawasan terlihat megah namun sistem drainase tidak jelas pengaturannya dan selalu luput dari perencanaan.

3. Lemahnya pengawasan pemerintah terutama dalam pengembangan wilayah pemukiman baru.
Coba perhatikan daerah pemukiman baru di sekitar Denpasar. Bukan hanya jalannya yang sempit dan berliku-liku, got juga tidak ada. Jadi kalau hujan, jalan berubah jadi sungai. Pemukim yang memdirikan bangunan juga tidak peduli dengan saluran drainase. Kalaupun mereka membuat saluran pembuangan, itupun dibuatnya tanpa keterpaduan dengan tetangga sebelah. Ukurannya juga hanya sekedarnya. Pengawasan dari pemerintah daerah juga nihil. Mestinya untuk urusan ini difasilitasi oleh pemerintah. Pemukim yang biasanya berasal dari beragam latar belakang tentunya tidak mampu untuk mengelola permasalahan yang bersifat publik seperti ini. Apalagi menegur dan memberi sanksi kepada warga yang melanggar.

Jalan di depan kantor saya sekarang jadi langganan banjir setiap tahun. Saya amati semakin tahun semakin parah. Saya yakin ketiga faktor di atas adalah jawaban dari fenomena ini.

Sebagai daerah destinasi wisata dunia, Bali mestinya berbenah. Banjir ini menjadi acara rutin tahunan dan beritanya sampai meluas tentu akan memberi citra negatif bagi Bali. Belum lagi beberapa berita bernada minor lainnya seperti rabies, kemacetan lalu lintas dan tindak criminal yang menimpa wisatawan asing. Kondisi pariwisata Bali yang saat ini sedang lesu karena krisis ekonomi global akan semakin terperosok ke jurang yang lebih dalam kalau masalah-masalah tersebut tidak kita atasi.

Sabtu, 03 Januari 2009

Laskar Pelangi


‘Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya’.
Kepala Sekolah SD Muhammadyah Desa Gantong

Kalimat itulah yang selalu terngiang di telinga saya setelah kemarin menonton film laksar pelangi dengan istri dan anak-anak saya. Film dengan latar belakang Pulau Belitung tahun 1979 itu benar-benar menyentuh hati saya. Saya begitu larut dalam alur cerita yang memukau, bercampur antara sedih, gembira dan terkadang mengundang tawa. Tak terasa beberapa bulir air mata membasahi sudut mata saya yang sudah semakin dewasa ini. Benar-benar menginspirasi.

Ini adalah kisah betapa lebarnya kesenjangan antara kaum miskin dan kaya di sebuah pulau yang kaya dengan timah. Terasa sekali bahwa pembangunan hanya menguntungkan sebagian lapisan masyarakat, sementara sebagian lapisan masyarakat lainnya hanya sebagai penonton dan terpinggirkan, hidup dalam kemiskinan.

Hikmah apa yang saya petik dari cerita film ini?

1. Pak Kepala Sekolah, Ibu Guru Mus dan Pak Zulkarnain (yang setia memberikan bantuan agar sekolah masih tetap berjalan) menginspirasi saya untuk merenungi kembali arti hidup. Seperti kalimat yang saya petik di awal tadi, saya ingin mengabdikan hidup saya ini untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.

Mereka bertiga menginspirasi saya bahwa pendidikan bukanlah diukur dengan deretan angka-angka. Hendaklah pendidikan lebih menonjolkan nilai-nilai kemanusiaan dan mengedepankan hati.

2. Anak-anak laskar pelangi, (Lintang, Ikal, Mahar dkk) mengingatkan saya kembali akan masa kecil saya. Masa kecil yang sangat bersahaja, sarat dengan keterbatasan namun penuh kegembiraan, semangat pantang menyerah dan kebersamaan. Bahwa sukses tidak semata-mata ditentukan oleh fasilitas, namun oleh sikap yang ada dalam diri kita.

3. Guru SD PN yang diperankan oleh Tora Sudiro (maaf saya lupa namanya) mengingatkan kita akan pentingnya sikap kesatria. Di saat detik-detik akhir lomba cerdas cermat antar SD, di mana SD Muhammadyah dan SD PN memiliki angka yang sama, Lintang berhasil menjawab pertanyaan matematika yang kemudian dinyatakan salah oleh tim juri. Saat itu Guru Tora (?) dengan kesatria mengakui bahwa jawaban yang diberikan Lintang itu sama dengan hasil hitungannya, yang menurutnya benar. Jika saja Pak Guru ini diam, maka kemenangan akan diraih sekolahnya karena SD Muhammadyah akan dikurangi nilainya. Di masa saat ini kita merindukan orang-orang yang secara kesatria menyuarakan kebenaran walaupun hal itu berarti merugikan dirinya.

4. Dari sosok Lintang saya belajar banyak tentang arti kerja keras dan semangat pantang menyerah. Lintang, seorang anak dari kampung nelayan setiap hari harus menempuh perjalanan dengan naik sepeda sejauh puluhan kilometer menuju sekolahnya. Ibunya yang sudah tiada membuat lintang setiap hari juga harus mengurusi tiga adik perempuannya saat ditinggal ayahnya yang pergi melaut. Setiap hari juga, di suatu tempat dalam perjalanannya dia harus dengan sabar menunggu buaya yang melintasi jalan setapak yang ia lalui.

Yang paling menyentuh adalah ketika Lintang yang sedang bersiap-siap untuk berangkat untuk ikut lomba cerdas cermat diminta oleh ayahnya untuk menjaga adik-adiknya karena akan segera berangkat melaut. Teryata itulah pertemuan terakhir Lintang dengan ayahnya. Lintang yang jenius, yang mampu mengerjakan soal matematika tingkat tinggi hanya dengan memejamkan mata, harus berhenti bersekolah demi menggantikan peran ayahnya untuk mencari nafkah buat adik-adiknya. Sungguh sebuah gambaran yang sangat ironis di negeri yang katanya kaya ini.

Hidup dengan lebih banyak memberi terasa begitu indah. Memberi tidak hanya berarti memberi secara materi. Itu hanya salah satunya, masih ada ribuan cara lainnya untuk memberi.

Laskar Pelangi bukan film hiburan semata. Cerita yang diangkat dari novel karya Andre Hirata ini merupakan makanan yang amat bergizi bagi jiwa kita. Sebuah karya fenomenal dari anak bangsa. Semoga akan lahir lagi karya-karya inspiratif seperti ini di masa-masa yang akan datang.

Untuk Bali-ku tersayang... Mudah-mudahan apa yang terjadi di Belitung tidak terjadi di pulau tercinta ini. Saatnya semua anak pulau ini menikmati kesempatan belajar yang sama, tidak pandang dia miskin atau kaya. Akankah bisa terwujud?

Jumat, 13 Juni 2008

Jepang dalam Sepekan (2): Hotel Monterey Osaka

Terus terang, sebelumnya saya tidak punya bayangan khusus tentang Osaka. Kosong blas…. Paling yang ada dalam pikiran tentang Osaka hanyalah kota industri yang banyak gedung-gedung bertingkat dan pabrik-pabrik.

Ternyata bayangan itu tidak meleset terlalu jauh lho. Dalam perjalanan dari Kansai airport ke hotel, kami harus melalui ‘highway’ yang saling silang. Bingung juga melihat mobil ada di atas kita atau kadang di bawah kita. Tidak ada pemandangan lain selain jalan bertingkat-tingkat dan gedung-gedung tinggi. Sebenarnya asyik juga sih. Sebuah pengalaman baru buat saya.

Kondisi jalan sangat bagus, seperti kondisi umum jalan-jalan di Jepang. Tidak terasa ada guncangan-guncangan dari dalam bus. pemandangan selama perjalanan serasa datar-datar saja. Langit terlihat kelabu. Padahal sudah pukul 9.00 pagi. Saya baru sadar akan berkah yang kita dapatkan buat pulau Bali yang masih banyak lahan hijaunya dan sedikit gedung tingginya. Kita masih bisa melihat langit biru dan awan yang terbang ditiup angin. Di kala malam, kita masih bisa mengagumi bintang dan bulan. Tidak heran banyak turis Jepang yang senang liburan ke Bali.

Bus berhenti di stasiun dekat hotel kami menginap, Hotel Monterey. Namun untuk mencapai hotel, kami harus berjalan kaki dulu selama sepuluh menit. Untunglah udaranya sejuk, sekitar 18 derajat. Jalan kaki sambil menarik dua bagasi menjadi tidak begitu berat.

Jam 11 siang kami sampai di Hotel Monterey. Karena belum ‘check in time’ (boleh check in kalau sudah jam 2), kami terpaksa menitipkan barang saja di reception dan segera ganti pakaian. Janji pertemuan pertama dengan travel agent mulai pukul 2 siang. Terpaksa ganti bajunya dilakukan di toilet lobby. Pakaian yang tadinya kasual disulap menjadi pakaian kerja resmi lengkap dengan jas. Keren……J

Hotel Monterey Osaka ada di daerah Umeda, sebuah daerah perkantoran elit di jantung kota Osaka. Bangunannya bergaya klasik Eropa dengan dikelilingi oleh gedung-gedung perkantoran lainnya. Selidik punya selidik, teryata Monterey adalah jaringan hotel yang berpusat di Austria (kalau tidak salah… hehehe). Di depan hotel ada boulevard yang cukup lebar dan sejuk dengan pohon perindang. Sepanjang hari biasanya dipenuhi oleh pejalan kaki yang lalu lalang. Pada umumnya adalah mereka yang bekerja di sekitar daerah itu. Hotelnya tidak begitu besar, kurang lebih ada 150 kamar. Hotel ini terkenal dengan chapelnya yang menjadi tempat favorit sebagai tempat pernikahan. Ada tiga sampai lima pernikahan setiap harinya.

Kami mendapat kamar di lantai 10 (nomor 1018). Kamarnya tergolong luas untuk ukuran hotel di Jepang, cukup nyaman untuk berdua. Namun karena saya harus sekamar bertiga, jadinya terasa cukup sesak juga.

Fasilitas di kamar boleh dibilang sama dengan standar bintang lima. Ada ‘tea making facility’ lengkap dengan teh hijaunya yang bisa kita nikamti setiap hari. Akses internet juga disediakan dengan gratis. Ini yang paling saya suka. Mau tahu kecepatan aksesnya?..... ‘Ruar biasaaaa’. Begitu klik, page barunyanya langsung muncul. Tidak sepeti di Bali…. 'snail speed’ alias kecepatan kakul.

Kamar mandinya kira-kira 1,5 meter kali 2 meter. Kalah luas dengan hotel-hotel bintang lima di Bali. Namun fasilitasnya canggih semua. Dudukan toiletnya punya penghangat khusus agar saat duduk di situ kita merasa nyaman. Toiletnya juga dilengkapi dengan berbagai tombol sesuai dengan penggunaan. Pokoknya canggih deh. Untung saja saya tidak terlalu ‘gaptek’, sehingga tidak banyak masalah. Sekedar tahu saja, toilet seperti ini sudah menjadi standar di Jepang. Bahkan di tempat-tempat umum pun toiletnya seperti itu. Dan semuanya dalam keadaan super bersih. Kapan ya kita bisa seperti itu?

Sayang program tv-nya kebanyakan dalam bahasa Jepang. Cuma satu yang berbahasa Inggris. Itupun channel Animal Planet. Selama di sana tidak bisa monitor berita dunia. Untungnya saya masih bisa main internet sehingga bisa browsing kompas.com atau detik.com buat sekedar mengakses berita dalam negeri.

Makan pagi di Hotel Monterey disediakan dalam bentuk buffet. Tempatnya pun berpindah-pindah. Hari pertama kami breakfast di banquet room lantai 7, sedangkan di hari kedua kami breakfast di lantai 14. Setiap kali mau makan pagi, kita mesti membawa kupon dan diserahkan di pintu masuk banquet room. Kita bisa pilih dua jenis makanan. Mau breakfast ala Jepang bisa, mau gaya barat juga oke. Mau dua-duanya juga tidak masalah.

Staff yang melayani juga sangat efisien. Saya lihat hanya ada 3 orang yang bertugas, padahal ada sekitar seratus tempat duduk. Namun semuanya dapat tertangani dengan baik. Ck..ck..ck. Sebenarnya di hotel ini ada beberapa restoran, namun buka hanya untuk lunch dan dinner. Namun untuk efisiensi, breakfast ditangani dengan cara seperti ini.

Tidak banyak orang asing terlihat selama dua hari itu. Kebanyakan orang-orang Jepang dari berbagai daerah yang sedang ada urusan di Osaka.

Untuk urusan makan siang atau malam kami tidak terlalu masalah. Hanya beberapa puluh meter dari hotel ada sebuah mal yang banyak ada restorannya. Jenis makanannya juga sangat beragam dari berbagai Negara dengan harga yang cukup wajar. Lunch biasanya berkisar 600 s.d. 1000 yen. Kalau dinner sekitar 1500 s.d. 2000 yen. Belum termasuk minum.

Secara umum bisa dibilang tinggal di Hotel Monterey sangat memuaskan. Pelayanannya bagus, tempatnya juga strategis. Dari hotel ke stasiun subway sekitar 10 menit jalan kaki. Mau kemana-mana juga cukup gampang.

Tertarik dengan Hotel Monterey, silakan cek di http://www.hotelmonterey.co.jp/osaka

Senin, 09 Juni 2008

Jepang dalam Sepekan (1): Denpasar - Osaka

Dua minggu yang lalu saya sempat melawat ke negeri matahari terbit 'Jepang' dalam rangka perjalanan dinas dari perusahaan. Ini merupakan kali pertama kunjungan saya ke Jepang. Perjalanan ke tanah baru yang menginspirasi.

Tanggal 25 Mei 2008 tengah malam, dengan menggunakan pesawat JAL716, kami rombongan berlima (4 orang Bali dan 1 orang Jepang) meninggalkan Bali melalui bandara Ngurah Rai tepat pukul 00.50 (26 Mei) menuju Osaka.

Dalam pesawat, saya kebagian tempat duduk di baris paling depan kelas ekonomi. Lumayan, kaki bisa selonjoran selama perjalanan yang memakan waktu 8 jam itu. Teman-teman satu rombongan duduk di deretan lain, agak jauh dari saya. Di sebelah saya duduk seorang bule yang katanya dari Honolulu. Namanya Patrick, orangnya ramah dan suka cerita. Katanya dia sudah dua bulan di Bali untuk berselancar di beberapa tempat di Bali bahkan dia pernah dua minggu di pantai Grajagan, Banyuwangi. Di Bali, dia punya pacar orang Indonesia dari Surabaya. Kami bertukar beberapa cerita sehingga perjalanan jadi tidak membosankan. Tanpa terasa saya tertidur.

Jam 6 pagi, pramugari membangunkan saya karena saatnya dibagikan 'breakfast'. Asyik juga nih, pikir saya. Pas lapar, ada tawaran bagus...hehehehe. Saya ambil menu western. Enak banget. Pada saat yang sama, pramugari juga membagi formulir imigrasi dan bea cukai Jepang untuk diisi. Sambil menunggu, yah... saya isi semuanya.

Ternyata tidak berselang lama, pilot mengumumkan bahwa akan segera mendarat di Kansai International Airport. Waktu menunjukkan jam 6.30 waktu Bali (jam 7.30 waktu Osaka). Dari atas, kelihatan bandara Kansai ada di tengah laut. Ternyata bandara ini memang hasil reklamasi yang luar biasa luas. Kemajuan teknologi Jepang memungkinkan hal itu terjadi.

Turun dari pesawat, kita langsung menuju terminal kedatangan. Semuanya bersih dan modern. Tidak seperti di Bali, di dalam terminal tidak banyak orang terlihat. Yang ada hanyalah petugas imigrasi yang berjajar dengan tertib. Ternyata antriannya cukup panjang, perlu waktu sekitar 30 menit untuk sampai giliran saya. Dalam antrian kami bertemu dengan tiga orang ibu-ibu dari Jakarta (mereka naik Garuda) juga ikut antri. Di sini, setiap orang asing yang datang, selain paspornya diperiksa petugas imigrasi, wajah kita juga difoto. Dengan menatap layar komputer, kita tanpa sadar foto wajah kita sudah diambil. Kita diwajibkan juga untuk melakukan perekaman sidik jari telunjuk kanan dan kiri pada alat yang disediakan. Semuanya menggunakan komputer dan canggih. Kapan ya kita bisa begini? Untunglah saya tidak banyak mendapat hambatan dari petugas. Walaupun petugasnya tidak fasih berbahasa Inggris dan saya tidak fasih bahasa Jepang, semuanya berjalan lancar. Petugasnya sangat sopan (walaupun tidak ramah) dan berpenampilan rapi.

Sampai di bagian pengambilan barang, ternyata barang-barang kami sudah menunggu. Ada petugas wanita yang membantu melakukan klaim barang. Selanjutnya kami menuju petugas bea dan cukai. Syukur juga kami saya tidak mendapatkan rintangan berarti di sini, semua isian formulir sudah saya lengkapi selama di pesawat.

Keluar bandara, kami siap-siap untuk berangkat ke hotel yang sudah kami pesan sebelumnya. menuju ke sana katanya kami harus naik bus selama 30 menit.

Sistim transportasi di Jepang sudah sangat maju. Untuk menuju hotel, kami cukup melihat peta besar yang ada di sana dan membeli tiket bus sesuai jalur yang dikehendaki. Harganya pun sudah tertera jelas di sana. Untuk beli tiket, kita cukup memasukkan uang ke dalam mesin tiket yang ada (mirip ATM). Kita tinggal pencet seharga tiket yang kita mau dan mesin akan mengeluarkan tiket (bentuknya segi empat kecil, mirip tiket Timezone) beserta uang kembaliannya. Wow.... 'smart machine'... ya.

Menunggu bus datang, kami pun antri. Di Jepang, setiap orang antri dengan tertib. Bus tiba, petugas memasukkan barang kami ke dalam bagasi. Busnya seperti baru, bersih sekali. Sopirnya memakai setelah jas. Saya mendapatkan tempat duduk di deretan tengah. Perjalanan ke hotel pun di mulai.

Akhirnya kami tiba di Osaka. Osaka... kami datang!!

Sekian dulu yah... ceritanya akan kita sambung lagi di bagian ke-2.

Sabtu, 15 Maret 2008

Kenapa kita tidak disiplin berlalu lintas?

Kadang saya merasa gondok dan geregetan melihat ulah beberapa pengguna jalan di Bali ini. Disiplin kita dalam berlalu lintas sangatlah rendah. Berikut ini beberapa contohnya:

- Di persimpangan By Pass Ngurah Rai-Supratman-Gatot Subroto (simpang Tohpati), sering kali saya lihat pengendara sepeda motor dari arah Supratman pada saat lampu traffic light menyala merah (dari arah barat) tidak mau berhenti. Melainkan mereka belok kiri dan kemudian lewat di sela-sela kendaraan dan kemudian melaju belok kiri lagi ke arah Gianyar. Memang tidak menimbulkan kecelakaan, namun sangat berbahaya dan sangat tidak tertib. Kejadian serupa banyak saya lihat di beberapa persimpangan lain di Denpasar. Dan parahnya lagi, hal ini tidak hanya dilakukan pengendara sepeda motor, melainkan pengemudi mobil juga.

- Banyak sekali pengendara sepeda motor menggunakan jalur cepat (sebelah kanan). Apa mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.

- Di setiap traffic light, selalu terjadi penumpukan kendaraan hingga meluber sampai jalur kanan (terutama sepeda motor) sehingga menghalangi lalu lintas dari depan yang mendapat giliran lewat. Wajar saja kalau macet kadinya.

- Pasti anda pernah melihat penumpang mobil yang membuang sampah di jalan. Apakah itu hanya berupa kantong plastik, kulit permen bahkan canang sari bekas. Hehehehe... semoga tidak kena yang di belakang. Suatu hari saat berhenti menunggu lampu hijau di kawasan Sanur saya melihat mobil mewah di samping saya. Tiba-tiba kaca mobil di bagian kiri depan dibuka pelan. Seorang anak kecil dengan seragam SD swasta yang bagus tanpa merasa bersalah membuang kotak makan paginya begitu saja. Mungkinkan ini karena bapak atau ibunya tidak ada waktu untuk mengajari prilaku yang baik? Hanya Tuhan yang tahu.

- Dan banyak lagi deh.....

Kenapa ini bisa terjadi? Menurut saya ini karena tidak adanya ketegasan dari aparat dalam menertibkan. Kok dibiarkan saja pelanggaran-pelanggaran itu terjadi. Semakin lama masyarakat yang berprilaku begitu akan merasa tidak ada yang salah dengan kebiasaannya. Penyebab kedua adalah rendahnya kesadaran masyarakat. Kesibukan dan persaingan yang semakin meningkat membuat orang tidak peduli lagi dengan orang lain. Semua memikirkan kepentingan masing-masing.

Sampai kapankah kita begini? Inikah penyebab keterpurukan kita di segala segi?

Bali Sayang

Blog ini berisikan catatan-catatan kecil, artikel maupun foto tentang Bali yang saya dapatkan dalam perjalanan harian saya. Catatan, artikel maupun foto tsb. ada yang merupakan buah tangan saya sendiri maupun dari kegiatan saya sebagai pemulung dari berbagai sumber.

Banyak hal tentang Bali yang pantas untuk ditampilkan. Seni budaya yang indah, alam nan eksotik, pesona bawah laut yang mempesona dan lain sebagainya. Namun interaksi masyarakat sehari-hari patut juga kita cermati. Banyak hal-hal positif dari orang-orang Bali yang perlu kita tiru dan lestarikan. Namun banyak juga sifat-sifat negatif orang Bali yang tidak perlu kita lestarikan lagi karena tidak sesuai dengan zaman. Jadi, isi blog ini berupa pernak-pernik tentang Bali, apakah itu yang bagus maupun yang belum bagus, yang baik maupun yang belum baik. Sengaja saya pilih kata belum bagus dan belum baik karena pada dasarnya semuanya tergantung cara kita memandang sesuatu. Harapan saya, semuanya akan menjadi lebih bagus dan lebih baik. Semoga apa yang saya sajikan di sini dapat membawa manfaat yang baik bapi pembaca. Ini karena saya 'sayang Bali'.

Terima kasih